Monday, 4 September 2017

[Review Buku] UNFRIEND YOU – DYAH RINNI

“Bullying itu kayak gitu, Rissa. Dia ngancurin hidup siapa saja. Pelakunya. Korbannya. Orang-orang yang diam saja dan menyesal mengapa tidak melakukan sesuatu.” Hal 184 
 
 
Judul Buku: Unfriend You 
Penulis: Dyah Rinni 
Editor: Nico Rosady 
Proofreader: Gita Lesamana 
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 9780780648
Cetakan: Pertama, 2013 
Jumlah Halaman: 275 Halaman
 
Katrissa Satin sering berpindah-pindah sekolah mengikuti tempat kerja ayahnya. Termasuk siswa tidak populer dan nyaris tidak punya teman hingga bertemu dengan Aura Amanda, salah satu siswa terpopuler di Eglantine High School. 
 
Dulu menjadi bagian ‘clique’ Aura dan Milani mempunyai banyak keistimewaan, populer dan mendapat banyak perhatian dari siswa lain. Tapi Katrissa mulai merasa ada yang salah dengan persahabatan mereka. Apalagi dengan kehadiran Priska, siswa pindahan yang mudah bergaul dan bisa dengan akrab berbaur dengan Aura dan Milani. 
 
Katrissa sempat merasa ketakutan akan kehadiran Priska yang bisa menghancurkan persahabatan mereka. Tetapi itulah titik balik persahabatan mereka. Aura yang cemburu dengan kedekatan Priska dan Jonas, pacarnya, membuat Katrissa menyadari sifat asli Aura dan Milani. Ia juga mulai meragukan hubungan persahabatan mereka. 
 
Meski novel ini diterbitkan sudah lumayan lama, tahun 2013, tetap menarik untuk dibaca. Tema yang diangkat sangat relevan dengan kehidupan remaja sekarang. Unfriend You menceritakan tentang bullying yang terjadi di sekolah. Dibuka dengan sebuah adegan bullying yang lumayan menegangkan. Novel ini sukses membuat pembacanya merasakan kengerian kejadian bullying dari sudut pandang pelaku, korban, dan orang-orang di sekitar mereka.

QUOTE FAVORITE 
 
  • “Bagaimana mungkin di dunia ini ada orang yang begitu gamangnya menarik perhatian orang sementara orang seperti Katrissa kesulitan setengah mati mendapatkan teman.” – Hal 27 
  • “Saat memasuki toko buku, dia seperti menemukan kebahagiaan tersendiri.” – Hal 29 
  • “Ya ampun, apakah cowok itu tidak mengerti saat cewek tak sudi membalas sms itu artinya dia nggak mau bicara dengan cowok itu?” – Hal 96 
  • “Baginya, lampion kertas itu bukanlah sekadar lilin mengaung biasa. Itu adalah pernyataan baginya untuk melepaskan semua beban yang ada di dalam hatinya. Ia akan membiarkan sungai melarung semua masalahnya.” – Hal 110 
  • “Ia mungkin terluka, tetapi ia berusaha tidak memerlihatkan lukanya.” – Hal 154 
  • “Ini adalah alasan kenapa gue mati-matian ngedukung kampanye anti-bullying. Gue udah pernah ngerasain gimana rasanya digencet. Gimana rasanya diinjak, diperlakukan kaya gue ini cuma keset, sampah.” – Hal 181 
  • “Gadis itu, mungkin ia pernah ragu, pernah mengambil jalan yang salah, namun ia selalu menjadi Katrissa yang berhati baik.” – Hal 181 
  • “Que cuma bisa janji, kalau lo nggak bakal sendirian lagi. Gue bakal nemenin lo, berada di samping lo, menyelesaikan semua masalah ini.” – Hal 185 
  • “Tidak akan sendirian lagi. Begitu indah kalimat itu terdengar. Begitu banyak orang yang mengucakan itu padanya dan pada akhirnya meninggalkannya.” – Hal 185 
  • “Selamanya. Betapa kosongnya kata-kata itu. Dulu, kalimat itu terdengar begitu indah di telinga. Sekarang adegan itu tidak lebih dari gema masa lalu. Betapa naifnya ia percaya bahwa selamanya akan benar-benar selamanya.” – Hal 243 
  • “Ternyata, hati manusia bisa berubah.” - Hal 243
  • “Lo tuh kelamaan melihat matahari sampai mata lo buta kalau ada matahari lain yang lebih bagus. Dan kita semua. Di setiap diri kita ada matahari. Cuma tiap orang sibuk ngelihatin matahari yang lain.” – Hal 255 “Kadang, menangis adalah satu-satunya jalan untuk melepaskan emosi, membebaskan diri dari beban masa lalu.” – Hal 264
 
Happy reading...

Share:

0 komentar:

Post a comment